“Aku lebih baik mati”
“Tak ada gunanya aku
hidup”
“Aku ingin mengakhiri
semuanya”
“Aku lelah dengan
semuanya”
Sebagian besar
orang pasti pernah merasakan hal itu, sebagian besar orang pasti pernah punya
pemikiran seperti itu. Tak terkecuali kamu, kamu yg dirundung masalah, kamu yg
tak kuat menahan beban dipundakmu, kamu yg merasa tak bahagia hidup di dunia,
dan kamu tak merasa tak berarti.
Wajar saja jika
memang begitu, nomal jika pernah merasakan hal itu, hidup memang tak mudah,
kenyataan memang tak selalu manis, realita kehidupan memang sering membuat kita
takut. Kita lebih memilih bermimpi untuk selamanya, dibanding harus menghadapi
dunia nyata.
Tapi ada
beberapa hal yg perlu kamu camkan
Hidupmu bukan
hanya tentang dirimu, tapi juga tentang orang-orang yang menyayangimu
Hidupmu bukan
hanya milikmu tapi juga milik orang-orang disekitarmu
Dan hidupmu
bukan hanya milikmu tapi juga milik orang-orang yg mencintaimu
Jangan menjadi
manusia egois yang hanya memikirkan dirimu saja. Coba pikirkan orang-orang
disekitarmu..
Sampai disini,
masih tetap punya keinginan yang sama? Masih ingin mati? Masih tetap putus asa?
Kalau masih, oke mari kita lanjutkan..
Orang-orang yang
putus asa dalam hidupnya pasti berpikir:
“Jika aku mati
memang kenapa? Tak ada bedanya kan? Toh, bumi masih terus berputar, matahari
akan terus terbit, jam dinding akan terus bergerak, bintang masih terus berada
di langit, kehidupan akan terus berlanjut tanpaku.”
Pemikiran diatas
memang benar, Tapi coba renungkan, yang berhenti hanyalah waktumu, hanyalah
hidupmu dan jantungmu namun orang-orang-orang di sekitarmu masih harus
menjalani hidupnya, menjalani hidup mereka tanpa hadirmu, tanpa sapamu, dan
tanpa senyummu.
Tak pernahkah kamu
memikirkan mereka? Tak pernahkah kamu memikirkan orang-orang disekitarmu itu?
Mereka yang selalu ada untukmu..
Teman-temanmu,
bagaimana perasaan mereka ketika mendengar kabar duka darimu? Mereka akan terus
menyebut namamu dengan air mata yang menganak sungai. Tak taukah kamu apa yang
mereka rasakan saat melihat fotomu dengan mereka, tersenyum bersama, bahagia
bersama, semua memori bahagia akan membuat mereka semakin sakit. Tak taukah
kamu betapa sulit menghapus nomor telponmu dari kontak mereka? Mereka akan
terus mengecek facebook/twitter kamu, menulis didinding atau me-mention twitter kamu, mereka kan
meminta kamu untuk kembali, berharap berita tentang kamu hanya sebuah lelucon
belaka. Tak pernahkah kamu memikirkan itu?
Pacarmu atau
mantan pacarmu, mereka akan terus memandangi barang pemberian darimu, membaca
chattingan antara kamu dengannya, tersenyum kecil disela-sela air mata yang
mengalir, mengingat kemesraan yang pernah terjalin. Terluka, sakit, dan
menyesal. Mereka masih ingin melanjutkan hubungannya denganmu. Mereka ingin
kamu kembali.
Keluargamu, saat
pemakamanmu selesai, mereka akan saling menatap dengan pandangan kosong, dengan
mulut yang saling terbungkam, karena tak tau apa yang akan mereka katakan.
Rumahmu dipenuhi orang-orang bermata sendu dan mulut yang terkunci. Rumahmu
akan menjadi sorotan, ya rumahmu, keluargamu yang tertimpa badai kesedihan
kerenamu. Rumahmu akan merindukan suara tertawamu yang renyah, dan teriakanmu
yang melengking.
Kakak dan
adikmu, mereka akan terus menatap kamarmu yang kosong dengan pandangan tak
percaya. Setiap pagi saat mereka bangun dari tidur, mereka akan tetap berpikir
bahwa kamu masih ada didalam kamarmu dan tertidur, ya mereka masih berharap
kamu masih bersama dengan mereka. Setiap sudut rumahmu akan mengingatkan meraka
padamu. Membuat kenyataan semakin pahit.
Ibumu, tak pernahkah
kamu memikirkannya? Tak pernah membayangkan apa yang terjadi pada diri dan perasaannya
saat kamu telah tiada? Ibumu telah bersusah payah mengandungmu selama 9 bulan,
berjuang hingga berani mengorbankan nyawanya hanya untukmu. Ia telah merawat dan membesarkanmu susah payah,
tapi kamu malah ingin mengakhiri hidupmu dengan begitu mudahnya? Tak pernah kau
brpikir betapa terlukanya ia wahai anak durhaka? Ibumu akan merasa paling
bersalah karena tak mampu membuatmu hidup bahagia, menyesal karena merasa tak
mampu melindungimu. Kebahagiannya tak sesempurna dulu, saat kamu masih ada.
Ayahmu, pria
yang menjadi tulang punggung dalam keluargamu, banting tulang untuk menghidupi
dirimu, agar kamu bisa hidup layak dan bahagia. Tapi kamu malah menyia-nyiakan
semua itu karena masalah yang tak jelas, masalah yang sebenarnya tak seberapa
bila dibandingkan kerja keras ayahmu, masalah yang sebenarnya bisa kamu hadapi.
Diantara keluargamu, ayahmu adalah orang yang terlihat paling tegar, orang yang
paling bisa menerima, tapi kamu takkan pernah tau seberapa hancur hatinya,
seberapa rapuh perasaannya, seberapa terlukanya ia karnamu.
Tuhan, kamu
percaya Tuhan bukan? Tuhan, menciptakan kamu dari segumpal tanah yang
menjijikan, dan dengan kasih sayangnya padamu, ia rubah menjadi manusia, mahluk
yang paling sempurna diantara semua cintaannnya. Tuhan juga memberikan hati dan
otak bukan? Lalu kenapa kamu tidak mempergunakannya dengan baik dan memilih
untuk mengakhiri hidupmu? Coba bayangkan bagaimana perasaan Tuhanmu. Kecewa,
sakit hati, marah bahkan murka! Coba pikirkan wahai mahluk penghuni neraka,
wahai manusia yang tak tau diuntung, wahai manusia yang tak menggunakan otaknya
dengan benar!
Oke semua yang
ada di kepala saya sudah saya keluarkan, semua yang saya tau sudah saya
tuliskan. Jika kamu merubah pikiranmu, merubah pandanganmu, dan mau bersyukur. Allhamdulillah..
Tapi jika kamu
masih ingin bunuh diri, masih berpikiran untuk mati ya apa boleh buat. Lebih
baik memang kamu mati saja. Akhiri hidupmu sekarang! Aku pun tak sudi menghirup
oksigen yang sama dengan orang egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Su
ngguh merasa hina jika harus berjalan di bumi yang sama dengan orang yang tak
berani bermimpi. Ya lebih baik mati saja!!