AMAZON.COM
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Mei 2014

Diary sang Zombigaret -“Pengorbanan yang Berakhir Ditengah Jalan”-


“Deniii..!!” teriak ibuku. “Tadi sekolah telpon, selama seminggu ini kenapa kamu gak berangkat sekolah? Mentang-mentang ibu gak ada dirumah kamu seenaknya!” timpanya lagi. Muncul dihadapanku dengan wajah yang memerah.
Aku diam saja, tak berani menjawab, ya aku akui, aku tidak sekolah karena main bersama teman-temanku. Semenjak bapakku meninggal ibuku jarang dirumah, dan aku, tak ada niatan untuk melanjutkan sekolah.
“Apa ini?! Kenapa baju kamu bau rokok? Kamu mau cepet mati ya?” kata ibuku sambil menarik seragamku.
Aku kesal dan langsung masuk ke kamar. Mati? Hah, semua orang pasti mati gak cuma perokok saja. Buktinya, bapak meninggal meskipun tak pernah menyentuh rokok sekalipun. Kesal, kenapa ibu begitu bawel? Aku dimarihi terus seperti anak kecil.
Niatanku untuk kabur pun terbentuk. Satu persatu pakaian aku masukan kedalam tas besar, dan aku mengambil beberapa uang dari dalam lemari ibu untuk modal hidup.
“Lihat saja, aku pasti bisa sukses dengan sendirinya” tekatku sambil keluar rumah.

*4 tahun kemudian*
Aku membuka mata perlahan, mencoba merasakan semua indraku yang mulai melemah. Tangan dan kakiku sulit kugerakkan. Aku menatap kosong ke sekeliling kamar kos-anku yang masih nunggak 3 bulan.. Aku tak tau akan hidup seperti zombie berapa lama lagi. Dada ini semakin sesak. Penyakit? Tentu aku sedang mengidap pengakit. Jenis apa aku tidak tau, tak mungkin berobat tanpa uang. Ibu? Aku yakin ibu tidak akan mau mengakuiku lagi. Aku menutup mata, berharap ajal akan menjemput dengan segera.
*braakk* Pintu kos-anku terbuka lebar. Samar-samar aku melihat wanita tua yang datang dan langsung memelukku. Wajahnya yang dipenuhi air mata tampak tak asing bagiku.
“Ibuu..” rintihku, yang ternyata hanya terdengar gumaman tak jelas, aku biarkan air mataku yang menyambutnya.

*Dirumah sakit*
Setelah pertemuan itu, ibuku langsung membawaku kerumah sakit, merawat dan menjagaku seperti dulu. Kanker paru-paru. Itulah penyakit yang selama ini menggerogoti tubuhku. Rokok, kenapa aku harus bertemu dengannya? Membuatku menjadi mayat hidup tak berambut. Menyesal? Ya, tentu aku menyesal. Kenapa dulu aku membatah dan kenapa dulu aku meninggalkan ibu.
Aku merasa bersalah pada ibuku. Demi membiayai pengobatanku, ibu harus sampai menjual seisi rumah. Padahal aku yakin, luka dihatinya yang dulu kubuat masih belum kering.

***
“Apakah hanya ini?” teriak seorang wanita di luar kamar yang membangunkanku. Aku lirik jam dinding. Tengah malam.
“Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi rasanya butuh pengobatan yang lebih, dan dibutuhkan biaya yang besar” jawab seorang laki-laki, dokter, tebakku.
“Apa saja akanku lakukan. Rumah saya akan menjadi jaminannya ” berkata lagi wanita itu, dan kali ini dengan suara merintih. Suara ibuku, semangin jelas kudengar.
*Deerrrrr* seperti tersambar petir kurasakan saat ibu mengatakan itu. Kenapa ibuku rela mengorbankan rumah warisan Ayah hanya demi aku, anak durhaka yang penyakitan.  Semakin lama semakin parah penyakit yang kurasakan, semua pengobatan yang menelan biaya banyak itu seperti tak ada gunanya. Dan ibu terus berharap aku bisa sembuh. Isi rumah sudah ibu jual, dan sekarang rumah pun akan jadi jaminan, jika penyakitku tak sembuh juga, apalagi lagi yang akan ibu lepaskan. Apalagi? Jiwa atau raga ibu? Tak bisa! Tidak bisa aku biarkan ibu terus begini. Sudah cukup kebaikan yang telah ibu berikan padaku.
Aku mencoba bangkit dari tempat tidurku. Sepi, dokter dan ibuku sudah menjauh. Aku lepaskan alat-alat yang menjadi penopang hidupku. Aku menulis catatan kecil. Kukerahkan semua energi, aku mengunci pintu. Aku ambil selimut, kubuat menyerupai tali berbentuk lingkaran dan kucocokkan dengan kepalaku. Aku berdiri diatas kasur, aku mencoba menggantungkan selimut, aku letakkan kepalaku di tempat yang sesuai.
*brraakk* akhirnya aku menggantung dengan nyamannya disamping tempat tidur beserta catatan kecil digenggamanku.

“Ibuku sayang, sudah cukup pengorbananmu untuk mayat hidup sepertiku. Sudah cukup air mata yang kau keluarkan untuk anakmu yang durhaka. Maaf”

Jumlah kata: 591 kata
Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Menulis "Diary sang Zombigaret"

Minggu, 11 Mei 2014

Cerpen -Bulan yang menghilang-

Malam…
            Adalah waktu yang aku tunggu, di waktu malam aku lebih senang keluar rumah, duduk seorang diri dibawah pohon besar hingga larut malam menjelang. Memandangi bulan, adalah tujuanku.
Aku sangat senang bila berada disini, karena disinilah dulu aku bertemu dengan laki-laki yang baik hati lagi tampan. Aku bertemu dengannya saat aku baru pulang dari kampus, Saat matahari sudah kembali ketempat peraduannya,  dan munculah bulan sebagai pengganti matahari. Dan ketika itu, aku melihatnya duduk dibawah pohon yang sekarang ini aku tempati. Saat melihatnya, entah mengapa hatiku merasa tenang, aku bagai malihat pangeran dengan bermandikan cahaya bulan, dan aku tak tahu apa yang telah mendorongku untuk menyapa dan berkenalan dengannya. Dari situ kami terus berjumpa dari malam ke malam dan di tempat yang sama. Lalu, betapa beruntungnya aku teryata ia memiliki rasa yang sama denganku, akhirnya kami pun menjadi sepasang kekasih. Rio, itulah namanya. Dialah yang sekarang mengisi seluruh hatiku. Yang aku tau, dia adalah seorang dokter muda dari keluarga yang cukup berada.
            Tapi, ditempat ini jugalah aku harus berpisah dengannya. Karena, dia ditugaskan menjadi dokter di sebuah desa terpencil di pulau yang jauh dari pulau Jawa. Tapi dia sudah berjanji akan kembali, dan secepatnya akan melamarku. Jadi, disinilah aku menghilangkan rasa rinduku, entah mengapa ketika melihat bulan, aku merasa dirinya berada di sampingku.
*****
            Seperti biasa, saat sore menjelang aku baru pulang. Bergegaslah aku kerumah karena tak mau terlambat bertemu dengannya, bertemu dengan sang bulan yang selama ini, telah menjadi obat rindu untukku, menjadi pengganti Rio. Tapi, betapa terkejutnya aku ketika membaca sebuah koran yang tergeletak di atas meja makan dengan bertuliskan…
            “Bentrok antar suku di Poso, tewaskan seorang dokter muda….”
             Sakit, sakit hatiku membacanya, apalagi ketika mengingat bahwa Rio adalah satu-satunya dokter yang tinggal di daerah itu. Tubuhku lemas, semua tulang persendianku bergetar, aku tak bisa percaya dengan semua itu. Air mataku mangalir dengan derasnya.
            “Tidaaakkk!!!”  teriakku lantang. Lalu, dengan hati yang hancurku coba untuk berdiri, aku berlari keluar rumah. Ingin rasanya aku melihat bulan untuk memastikan bahwa semua hal yang ada di pikiranku salah. Aku berlari menuju tempat biasa aku melepas rindu, tapi tak nampak bulan di langit. Kosong, hanyalah langit kosong yang bisa aku lihat..
            “Buulaaaann….” Teriakku lagi.
            “ Katakan bulan, katakan bahwa semua itu tidak benar!!!”.
            “ Rio takkan mungkin mati, Rio pasti masih hidup, bulan, dimana kau…!!!”
            “ Bulan, jawab aku..!!!”
Tak puas dengan semua itu,  aku berlari tanpa arah mencari bulan, terus aku mencari, air mata yang sedari tadi membasuh mukaku tak aku hiraukan. Terus aku berlari, menyusuri jalan. Entah sudah berapa jauh aku pergi, sudah berapa langkah berlari. Aku ingin melihatnya, hanya ingin melihat bulan, itu saja!!
Aku rasakan tubuhku makin lemas, tenagaku mulai menipis, air mataku serasa habis karena sudah membanjiri semua jalan yang aku lewati. Tetapi, tetap saja tak kunjung juga aku melihat bulan di langit.
Aku mulai putus asa, hatiku seakan remuk tak berbentuk, tapi tetap aku ingin melihat bulan. Aku berjalan gontai, tetap dengan satu harapan, orang-orang yang melihatku tak aku hiraukan, malam yang semakin larut, terus aku abaikan. Sampai disuatu persimpangan..
“Brraaaakkk…”
Aku merasakan ada benda besar menghantam tubuhku, ada rasa nyeri di sekujur tubuhku, dan tiba-tiba pandanganku gelap seketika.
*****
Aku coba untuk membuka mataku. Aneh, kenapa ada sesuatu yang mengganjal kelopak mataku, yang membuatku tidak bisa membukanya, aku ada di mana?
“ Aku ada dimana?” Teriakku lirih.
“Nak, ini ibu, sekarang kamu ada di rumah sakit..” sebuah suara menjawab pertanyaanku, dan aku yakin itu adalah suara ibuku.
“ Ibu, kenapa dengan mataku?” tanyaku bingung.
“ Kemarin kamu tertabrak, untung kamu tidak apa-apa. Dan matamu, hanya di perban untuk sementara” Jelas ibu berusaha menenangkanku. Tapi aku meresa ada kesedihan didalam ibuku saat mendengar penjelasannya.
*****
Hari mengejar minggu, dan minggu mengejar bulan, akhirnya kenyataan pahit harus aku terima. Aku difonis dokter buta permanen. Tak ada kata yang bisa aku katakan, aku terlanjur hanyut dalam kesedihan..
Saat dokter telah mengijinkanku pulang, tempat pertama kali aku kunjungi adalah, tempat dimana aku bertemu dan berpisah dengan Rio. Yang bisa aku lakukan hanyalah diam meratapi nasibku.
Apakah aku akan bertemu kembali dengan Rio? Lalu, saat aku merindukannya, pada siapa aku akan menumpahkan kerinduanku? Bulankah? Itu tidak mungkin, aku takkan lagi bisa melihat bulan, yang bisa aku lihat hanyalah kegelapan, kegelapan yang memelukku erat menyesakkan, apakah aku harus menumpahkan semua rinduku kepada kegelapan? TIDAK, TDAK AKAN.. KARENA RIO BUKANLAH KEGELAPAN…!!!