“Deniii..!!”
teriak ibuku. “Tadi sekolah telpon, selama seminggu ini kenapa kamu gak
berangkat sekolah? Mentang-mentang ibu gak ada dirumah kamu seenaknya!”
timpanya lagi. Muncul dihadapanku dengan wajah yang memerah.
Aku
diam saja, tak berani menjawab, ya aku akui, aku tidak sekolah karena main
bersama teman-temanku. Semenjak bapakku meninggal ibuku jarang dirumah, dan
aku, tak ada niatan untuk melanjutkan sekolah.
“Apa
ini?! Kenapa baju kamu bau rokok? Kamu mau cepet mati ya?” kata ibuku sambil
menarik seragamku.
Aku
kesal dan langsung masuk ke kamar. Mati? Hah, semua orang pasti mati gak cuma
perokok saja. Buktinya, bapak meninggal meskipun tak pernah menyentuh rokok
sekalipun. Kesal, kenapa ibu begitu bawel? Aku dimarihi terus seperti anak
kecil.
Niatanku
untuk kabur pun terbentuk. Satu persatu pakaian aku masukan kedalam tas besar,
dan aku mengambil beberapa uang dari dalam lemari ibu untuk modal hidup.
“Lihat
saja, aku pasti bisa sukses dengan sendirinya” tekatku sambil keluar rumah.
*4
tahun kemudian*
Aku
membuka mata perlahan, mencoba merasakan semua indraku yang mulai melemah. Tangan
dan kakiku sulit kugerakkan. Aku menatap kosong ke sekeliling kamar kos-anku
yang masih nunggak 3 bulan.. Aku tak tau akan hidup seperti zombie berapa lama
lagi. Dada ini semakin sesak. Penyakit? Tentu aku sedang mengidap pengakit.
Jenis apa aku tidak tau, tak mungkin berobat tanpa uang. Ibu? Aku yakin ibu
tidak akan mau mengakuiku lagi. Aku menutup mata, berharap ajal akan menjemput
dengan segera.
*braakk*
Pintu kos-anku terbuka lebar. Samar-samar aku melihat wanita tua yang datang
dan langsung memelukku. Wajahnya yang dipenuhi air mata tampak tak asing
bagiku.
“Ibuu..”
rintihku, yang ternyata hanya terdengar gumaman tak jelas, aku biarkan air
mataku yang menyambutnya.
*Dirumah
sakit*
Setelah
pertemuan itu, ibuku langsung membawaku kerumah sakit, merawat dan menjagaku
seperti dulu. Kanker paru-paru. Itulah penyakit yang selama ini menggerogoti
tubuhku. Rokok, kenapa aku harus bertemu dengannya? Membuatku menjadi mayat
hidup tak berambut. Menyesal? Ya, tentu aku menyesal. Kenapa dulu aku membatah
dan kenapa dulu aku meninggalkan ibu.
Aku
merasa bersalah pada ibuku. Demi membiayai pengobatanku, ibu harus sampai menjual
seisi rumah. Padahal aku yakin, luka dihatinya yang dulu kubuat masih belum
kering.
***
“Apakah
hanya ini?” teriak seorang wanita di luar kamar yang membangunkanku. Aku lirik
jam dinding. Tengah malam.
“Kami
sudah melakukan yang terbaik, tapi rasanya butuh pengobatan yang lebih, dan
dibutuhkan biaya yang besar” jawab seorang laki-laki, dokter, tebakku.
“Apa
saja akanku lakukan. Rumah saya akan menjadi jaminannya ” berkata lagi wanita
itu, dan kali ini dengan suara merintih. Suara ibuku, semangin jelas kudengar.
*Deerrrrr*
seperti tersambar petir kurasakan saat ibu mengatakan itu. Kenapa ibuku rela
mengorbankan rumah warisan Ayah hanya demi aku, anak durhaka yang penyakitan. Semakin lama semakin parah penyakit yang kurasakan,
semua pengobatan yang menelan biaya banyak itu seperti tak ada gunanya. Dan ibu
terus berharap aku bisa sembuh. Isi rumah sudah ibu jual, dan sekarang rumah
pun akan jadi jaminan, jika penyakitku tak sembuh juga, apalagi lagi yang akan
ibu lepaskan. Apalagi? Jiwa atau raga ibu? Tak bisa! Tidak bisa aku biarkan ibu
terus begini. Sudah cukup kebaikan yang telah ibu berikan padaku.
Aku
mencoba bangkit dari tempat tidurku. Sepi, dokter dan ibuku sudah menjauh. Aku lepaskan
alat-alat yang menjadi penopang hidupku. Aku menulis catatan kecil. Kukerahkan
semua energi, aku mengunci pintu. Aku ambil selimut, kubuat menyerupai tali
berbentuk lingkaran dan kucocokkan dengan kepalaku. Aku berdiri diatas kasur, aku
mencoba menggantungkan selimut, aku letakkan kepalaku di tempat yang sesuai.
*brraakk*
akhirnya aku menggantung dengan nyamannya disamping tempat tidur beserta catatan
kecil digenggamanku.
“Ibuku sayang, sudah cukup pengorbananmu
untuk mayat hidup sepertiku. Sudah cukup air mata yang kau keluarkan untuk
anakmu yang durhaka. Maaf”
Jumlah kata: 591 kata
Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Menulis "Diary sang Zombigaret"
Jumlah kata: 591 kata
Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Menulis "Diary sang Zombigaret"